SOSIALISASI & REMBUK STUNTING
DIRANGKAIKAN DENGAN MUSDES RKPDes TAHUN ANGGARAN 2020
Sidorukun merupakan salah satu desa yang menjadi kasus stunting yang tinggi di randangan, sehingga diharapkan kepada seluruh masyarakat yang mengikuti sosialisasi penanganan stunting dapat mengikuti dengan baik kegiatan ini. Stunting bukan berarti bahwa pertumbuhan yang kerdil akan tetapi pola fikir kita khususnya dalam bidang dan usaha kebersihanlah yang harus kita robah. Hal ini disampaikan oleh Ayahanda Desa Sidorukun dalam sambutannya pada pembukaan Sosialisasi dan rembuk Stunting yang dilaksanakan oleh TPID Kecamatan Randangan di desa Sidorukun.
disela-sela sambutannya ayahanda Sidorukun bapak Untung Surapati menegaskan bahwa hasil dari kegiatan ini akan tuangkan dalam RKPDes untuk tahun anggaran 2020, sehingga diharapkan kepada seluruh peserta sosialisasi untuk dapat merumuskan program yang nantinya menjadi program pencegahan stunting di Desa Sidorukun.
Ibu Husna Djaina, SST dari Puskesmas Kecamatan Randangan menerangkan dalam materinya bahwa ada beberapa kondisi/perlakuan sebagai penyebab stunting :
A. Pola Makan
Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.
Istilah ''Isi Piringku'' dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.
B. Pola Asuh
Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.
Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.
Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.
Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.
C. Sanitasi dan Akses Air Bersih Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.
''Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka, dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya'', tutupnya.
Dalam rembuk stunting peserta di bagi menjadi 3 kelompok dengan di pandu langsung oleh Pendamping Desa Pemberdayaan Wawin Wartabone.
ada 3 aspek yang menjadi item dalam rembuk stunting di kelompok yaitu :
1. Kesehatan Ibu dan Anak konseling Gizi Terpadu
2. Perlindungan sosial dan Jambanisasi
3. Pelayanan PAUD
Dasar pelaksanaan rembuk ini yaitu :
a. 30 Ruta yang menjadi sasaran program
b. 1 Ruta yang menjadi rentan stunting
c. 1 Ibu Hami berkondisi RESTI
d. 23 orang anak usia 0 - 23 bulan
e. 14 Ruta tidak mempunyai jamban
f. 4 ibu hamil tidak mempunyai jaminan kesehatan
g. 21 anak umur 0 - 23 bulan belum memiliki jaminan kesehatan
h. 15 anak umur 0 - 23 bulan belum memiliki akte kelahiran
harapannya dari pelaksanaan rembuk stunting ini ada program yang akan dilaksanakan oleh desa dan dituangkan dalam RKPDes tahun anggaran 2020. ujar pendamping desa pemberdayaan ini.
Sosialisasi ini di ikuti kurang 100 orang peserta yang terdiri dari perwakilan tokoh masyarakat : Bidan Desa, KPM, Guru tutor Paud, PPKBD sub PPKBD, BPD Karang taruna, imam desa dan lain-lain.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar